Profil Pemain: Bateria, Winger Futsal yang Mematikan Asal Brazil

0 komentar

Dione Alex Veroneze, yang terkenal dengan sebutan “Bateria” adalah salah satu pemain futsal FC Barcelona yang baru bergabung dengan Barcelona pada musim 2014/2015 kemarin. Lahir di Palmitos (Santa Catarina, Brazil), ia baru menjadi seorang pemain profesional pada musim 2010/2011 dengan bermain di klub Krona Joinville. Setahun kemudian ia berhasil menarik salah satu klub raksasa Spanyol, Inter Movistar.
Seperti pemain Brazil pada umumnya, ia memiliki nama yang unik. Pada jersey yang ia gunakan tertulis “Bateria”. Nama berasal dari ayahnya yang memiliki toko baterai accu mobil di Palmitos.
Karir Bateria bersama Inter Movistar boleh dibilang sangat sukses. Ia menjadi salah satu pemain kunci dari Inter Movistar, terutama pada musim 13/14, saat Inter Movistar berhasil mematahkan dominasi FC Barcelona dengan menjadi juara Liga Nacional de Futbol Sala (LNFS). Dalam 3 musim bersama Inter, ia memenangkan 1 gelar liga (2013/2014), 2 Spanish Cup (2014), dan 1 Spanish Super Cup (2011). Bahkan Bateria sempat terpilih sebagai pemain terbaik pada musim 2013/2014.
Tim nasional Brazil pun tertarik dengan performanya dan memanggil Bateria untuk bermain bagi negaranya sejak tahun 2013. Bersama Brazil, ia berhasil meraih Juara Grand Prix Futsal pada tahun 2013.
Bateria adalah seorang pemain yang dapat dipercaya untuk menciptakan banyak gol di setiap musim, walaupun ia bukan seorang pemain depan/pivot. Ia adalah pemain sayap berkaki kidal yang juga terus berkembang tidak hanya dalam kemampuannya menyerang, namun juga bertahan. Kecepatan dan pengambilan keputusan adalah dua kelebihan utama dari Bateria yang membuat tim lawan takut terhadapnya.
Bersamaan dengan Rafa Usin dan Ferrao, Bateria memperkuat FC Barcelona sejak musim 2014/2015. Sayang, pada musim tersebut ia harus mengalami paceklik gelar, karena Inter Movistar masih mempertahankan dominasi mereka. Namun ia tak perlu kecewa. Dengan usianya yang masih relatif muda dan keberadaannya di klub yang terus bersaing di kasta tertinggi secara reguler, masih banyak kesempatan baginya untuk memperoleh gelar dan mungkin saja suatu saat mencetak sejarah.

Bagi para pembaca yang belum pernah melihat Bateria bermain, anda bisa menontonnya pada video di bawah:



7 Tipe Pemain Futsal yang Pasti Pernah Kamu Jumpa

0 komentar

Selamat siang, kali ini kami tidak akan membahas tentang sepatu futsal, namun sedikit bersantai dengan menulis sebuah artikel yang ringan tentang olahraga futsal. Sebagai penggemar olahraga futsal, pastinya anda sering bertemu dengan berbagai macam pemain kan? Namun, dari banyak teman-teman futsal anda tersebut, biasanya ada beberapa kebiasaan yang mirip diantara mereka, sehingga menjadi sebuah stereotipe. Di lapangan rumput, sintetis, lapangan karet/taraflex, anda biasanya tetap akan bertemu dengan pemain-pemain macam ini.
1: Messi/Ronaldo KW 1
Messi/Ronaldo KW 1 sangat menyukai bola dan jerseynya yang keren (biasanya antara brazil, barcelona, atau klub klub yang berisi pemain yang jago dribbling). Messi/Ronaldo KW 1 lebih memilih mendribble dan melewati orang lain dibandingkan melihat timnya mencetak gol. Menurutnya, ia adalah Messi/Ronaldo di dalam tim, namun tidak seperti kedua pemain hebat tersebut, ia tidak membutuhkan rekan-rekannya.
Karena rasa percaya diri yang tinggi, ia yakin setiap ia menyentuh bola pasti ia bisa melewati pemain lawan dan mencetak gol. Jika tidak diperlukan, ia tidak akan mengoper bola. Sentuhan magisnya akan membuat lawan tunduk, bahkan dalam situasi tersulit sekalipun (di pojok lapangan).
Messi/Ronaldo KW 1 merasa ia harus selalu dipassing. Jika ia tidak mendapat bola ia akan berteriak kepada rekannya. “Kenapa gak oper gue? Gue bisa nyetak gol tadi!”
2: Si Tukang Jeber
Si tukang jeber sangat menyukai shooting keras. Baginya, perasaan saat bola menyentuh kaki dan mengarah ke pojok gawang adalah sensasi yang tak tergantikan. Ia memiliki tenaga yang baik, sayang akurasi dan tekniknya kadang membuatnya kecewa. Si Tukang Jeber pernah mencetak beberapa gol cantik dan merasa yakin ia dapat mencetaknya lagi dan lagi setiap ada kesempatan. Idolanya adalah Steven Gerrard dan Frank Lampard, dan ia senang menendang bola sekeras mungkin dengan kedua kaki.
Si Tukang Jeber tidak pernah kehilangan rasa percaya diri. Walaupun 9 dari 10 kali kesempatan ia selalu menendang bola ke pojok (pojok lapangan, bukan pojok gawang), ia tetap melakukannya.
3: Si Jendral Lapangan
Si Jendral Lapangan mengenal sepakbola dan futsal dengan baik. Ia sudah pernah mengikuti berbagai kompetisi dan latihan, sehingga tahu persis bagaimana cara bermain. Ia tahu kapan harus berlari, mengoper, atau menembak. Si Jendral Lapangan bisa menjadi aset yang baik jika tim anda tidak dipenuhi oleh Messi/Ronaldo KW 1 dan Tukang Jeber.
Namun, Si Jendral Lapangan ini juga bipolar, jika ia mendapatkan tim yang dipenuhi oleh pemain yang kurang baik, ia akan mulai marah dan meneriakkan perintah kepada rekannya. Sayangnya, rekannya yang memang medioker tidak bisa menjalankan perintahnya. Biasanya pada titik ini Si Jendral Lapangan akan berubah menjadi Messi/Ronaldo KW 1, Tukang Jeber, atau jika anda kurang beruntung, menjadi Si Gila.
4: Si Gila
Si Gila adalah pemain paling berbahaya. Ia sering bertopeng sebagai Si Jendral Lapangan atau Messi/Ronaldo KW 1. Setelah ia bermain selama 10-20 menit, amarah dan frustasi mengambil alih kewarasannya.
Biasanya hal ini terjadi saat Si Gila disenggol ringan, dipermalukan, dicemooh, atau kalah telak. Si Gila akan selalu mencari cara untuk membalasnya. Kadang dimulai dengan “ketidaksengajaan”, lama kelamaan bisa menjadi body charge, dan terus berkembang sampai kakinya mengarah ke wajah anda. Kalau Si Gila sudah mulai menggila, tekel-tekel berbahaya pun dikeluarkannya. Biasanya Si Gila adalah orang yang paling ditakuti sekaligus dibenci.
5: Si Pak Tua
Si Pak Tua sudah bermain sepakbola selama 25 tahun. Ia mengenal olahraga ini lebih lama daripada pemain lainnya di lapangan dan ia bisa bermain di segala posisi. Karena ia tidak punya kekuatan dan stamina seperti dulu, Si Pak Tua senang bermain di belakang. Ia tidak selalu marah-marah, namun jika rekannya bermalas-malasan ia akan menasehatinya.
Si Pak Tua adalah aset yang berharga bagi tim. Tidak egois, ia akan mengoperkan bola dan bertahan saat dibutuhkan. Jika ia maju ke depan, rekannya akan senang hati menjaga posisinya di belakang. Si Pak Tua tidak pernah protes saat harus menjadi kiper.
6: Si Besar
Si Besar adalah pemain yang memiliki tubuh seperti pegulat, namun sangat menyukai sepakbola. Beberapa dari mereka memiliki bakat yang lebih saat menjadi penjaga gawang, namun beberapa dari mereka menyukai bermain sebagai pemain. Sebagian dari mereka memiliki teknik yang lumayan, walaupun biasanya setelah 5-10 menit mereka mulai kehabisan nafas dan mulai melakukan kesalahan-kesalahan mendasar.
7. Si “Remeh”
Si “Remeh” sudah bermain sepakbola sejak lama, dan ia selalu dianggap sebagai pemain medioker, anak mami, atau kurang mumpuni, pada saat pertama kali bermain. Setelah 10-15 menit bermain, si Remeh mulai menunjukkan kemampuan dan tanggung jawabnya (ia tidak pernah merasa keberatan bermain di belakang atau menjadi kiper), pemain lawan mereka merasa menyesal tidak memilihnya sebagai anggota timnya. Biasanya setelah minggu kedua atau ketiga mulai menjadi rebutan.

Rivalitas Man. United vs Man. City

0 komentar


Rivalitas Man. United vs Man. City: Sempat Jalin Hubungan HarmonisLaga Man. United vs Man. City selalu panas. (Foto: Getty Images)

Tetangga berisik. Itulah olok-olok yang disematkan mantan manajer Manchester United, Sir Alex Ferguson, kepada tim satu kota, Manchester City. Sebutan itu diucapkan Fergie usai Man. City diakuisisi oleh konsorsium UEA, Abu Dhabi United Group, pimpinan Sheikh Mansour bin Zayed Al Nahyan. Pasalnya, The Citizens langsung berubah drastis menjadi tim kaya raya dan dengan mudah menggaet pemain-pemain berkualitas dengan harga selangit. Hal itu membuat mereka berkoar bisa merebut takhta juara Premier League dan merusak dominasi Man. United.
Faktanya, tak serta merta The Citizens langsung bisa juara. Fergie pun mengaku telinganya panas setiap kali mendengar koar-koar mereka. Dia pun lantas tak sungkan menyebut The Citizens sebagai “tetangga berisik” yang hanya bisa bicara tanpa bukti nyata.
Tak hanya itu,  ketika The Citizens membajak Carlos Tevez pada 2009, Fergie pun kembali membuat pernyataan yang bisa dibilang merendahkan Man. City. Dia berkata, “Man. City adalah klub kecil dengan mental yang kecil pula. Mereka pikir dengan mengambil Tevez sudah menjadi pemenang. Tidak!”.
Toh, seiring berjalannya waktu, “tetangga berisik” itu kini telah menjelma menjadi tetangga yang punya mental juara kuat. Faktanya, mereka mampu mempecundangi Red Devils dalam perburuan gelar juara Premier League 2011-12. Hebatnya, The Citizens melakukannya pada detik-detik akhir laga kontra Queens Park Rangers di pekan pamungkas. Kemenangan dramatis 3-2 atas QPR membuat Man. City juara Premier League musim itu dengan “hanya” unggul selisih gol dari Man. United. Kedua tim memiliki jumlah poin sama.
Musim lalu, The Citizens kembali membuktikan sebagai tim dengan mental juara yang kuat. Mereka juara untuk kali kedua di era Premier League dan dilakukan saat Man. United tengah terpuruk.
Meski sudah bisa membuktikan bahwa Man. City bukan sekadar “tetangga berisik” dengan meraih gelar juara Premier League, tapi mereka dipastikan masih tak terima dengan olok-olok tersebut. Oleh karena itu, setiap bersua dengan Man. United, mereka termotivasi untuk bisa mengalahkan rival sekotanya tersebut.
Toh, rivalitas panas keduanya bukan hanya karena olok-olok Fergie saja. Jauh sebelumnya, sejumlah pemicu telah muncul. Sampai-sampai gesekan suporter dan pemain di atas lapangan kerap muncul. Perseteruan pertama melibatkan Lou Macari dan Mike Doyle pada 1974 silam. Keduanya menjadi pemain pertama yang diusir wasit sepanjang sejarah derby Manchester. Karena menolak keluar lapangan, keduanya sampai digiring polisi. Belum lagi aksi brutal George Best yang mematahkan kaki Glyn Pardoe serta tindakan Roy Keane yang sengaja menghajar kaki Alf Inge Haaland.
Akan tetapi, ada hal menarik yang mungkin luput dari perhatian pemerhati sepak bola. Awalnya, kedua suporter tim ternyata sempat saling bersahabat pada era 1930-an. Saat Man. City bertandang ke kota lain, tak sedikit fans mereka yang menyaksikan laga kandang Manchester United. Pun sebaliknya. Gara-garanya tentu saja persamaan nasib pada masa lampau. Hal itu membuat kedua suporter memiliki rasa senasib. Kala itu, baik The Citizens maupun Red Devils adalah tim yang tak stabil di kasta teratas. Mereka kerap turun ke kasta bawah. Ketika Red Devils sempat mengalami degradasi pada 1921-22, 1930-31, dan 1936-37, The Citizens mengalaminya pada 1925-26 dan 1937-38.
Kedua tim pun tak sungkan saling berbagi stadion. Usai Perang Dunia II, Man. United menjadikan kandang Man. City kala itu, Maine Road, sebagai markas sementara mereka lantaran Old Trafford luluh lantak terkena serangan udara tentara Jerman. Sebagai imbal bailknya, Red Devils mengizinkan tim cadangan The Citizens memakai The Cliff, training ground Man. United kala itu, sebagai markas.
Toh, sedikit demi sedikit, romantisme dan keharmonisan itu mulai ternoda. Percik perselisihan mulai menampakkan diri. Dimulai dari bebera bintang The Citizens seperti Billy Meredith, Herbert Burges, dan Sandy Turnbull yang menyeberang ke Red Devils. Pengkhianatan ini dilatarbelakangi pemberian skorsing oleh manajemen Man. City terhadap kasus suap yang melibatkan ketiga pemain tersebut pada akhir musim 1905-06.
Pada akhirnya,hubungan kedua tim satu kota tersebut makin memanas  pada dekade 1960-an. Penyebabnya tak lain prestasi kedua tim yang mulai timpang. Usai Perang Dunia II, prestasi Red Devils mengalami peningkatan tajam. Mereka sukses meraih lima gelar juara liga pada periode 1950 dan 1960-an. Sementara, di era yang sama, The Citizens hanya mampu juara satu kali. Ini mengakibatkan munculnya kecemburuan yang berujung pada rivalitas kedua klub.
Hingga saat ini, kecemburuan The Citizens terhadap prestasi Red Devils belum pupus. Bagi mereka, dua gelar juara di era Premier League yang berhasil direbut belum ada apa-apanya. Oleh karenanya, The Citizens selalu memiliki doktrin harus menang setiap bersua Red Devils. Meski begitu, Man. City merasa tak sepenuhnya kalah dari Man. United. Mereka boleh saja kalah dari segi prestasi. Tapi, sejatinya derajat The Citizens lebih tinggi ketimbang Red Devils sehingga berhak menyandang status penguasa kota Manchester.
Man. City memiliki akar hubungan lebih kuat dengan masyarakat kota lantaran didirikan warga sipil yang merupakan anggota dari pengawas gereja setempat. Sementara itu, Man. United didirikan oleh pihak swasta yakni Lancashire and Yorkshire Railway. Secara emosional, penduduk kota Manchester lebih terikat dengan Man. City.
Well, rasanya ketika Man. City ingin selalu mengalahkan Man. United adalah sebuah kewajaran. Mereka ingin terus membuktikan bukan sekadar “tetangga berisik”. Selain itu, mereka juga ingin menegaskan bahwa penguasa sejati Manchester adalah The Citizens. Sebuah klub yang berdiri didasarkan mayoritas kelompok masyarakat di kota tersebut yakni golongan pekerja. (EP)

Suporter dan Hal-hal yang Tak Terbeli dari Sebuah Klub

0 komentar

Suporter memang tak pernah mendapat tugas untuk merebut bola ataupun mencetak gol. Mereka tak perlu bersusah-payah di atas lapangan demi memenangkan satu pertandingan.
Walau tak terlibat secara langsung dalam pertandingan, suporter adalah salah satu elemen utama dalam sepakbola. Pada dasarnya, suporter sepakbola dibentuk oleh komunitas atau kelompok masyarakat yang berisikan individu – individu yang memiliki kesamaan daerah tempat tinggal, identitas, hasrat, pandangan politik, dan kelas sosial berkumpul.
Individu–individu ini berangkat dari naluri mereka sebagai makhluk sosial. Setelah rutinitas harian mereka, setelah mereka menghidupi diri sendiri dan keluarga mereka, tiba saatnya individu-individu ini lapar akan hidangan yang disajikan oleh sosiolog Charles Horton Cooley yang mengatakan bahwa individu dan masyarakat saling melengkapi, di mana individu hanya akan menemukan bentuknya di dalam masyarakat.
Kemudian di tengah atau di akhir pekan, mereka pergi sendiri atau pergi dengan anaknya yang sudah didoktrin, pergi ke stadion layaknya mesjid di hari jum’at, sinagoge di hari Sabtu atau gereja di hari Minggu. Berkumpul dengan individu lain yang senasib dengan mereka, untuk mengenang sejarah, melihat proses sejarah, atau bermimpi tentang sejarah di masa datang.
Namun ritual “kesepakbolaan” mereka bisa saja mendapat cobaan, seperti Portsmouth FC, klub yang berkandang di Fratton Park, Portsmouth, ini. Pada 26 Mei 2009, mimpi mereka akan kejayaan klub muncul setelah Portsmouth diambil alih oleh seorang pengusaha berkebangsaan UEA, Sulaiman Al Fahim. Bukannya awal kejayaan di dapat oleh suporter tetapi malah awal sebuah era kegelapan yang mereka alami.
Mulai tahun 2009 sampai 2013, klub ini beberapa kali mengalami pergantian kepemilikan. Bersamaan dengan itu, Portsmouth juga didera masalah finansial. Akhirnya, pada 19 April 2013, beberapa kelompok suporter yang tergabung dalam Porthsmouth Supporter Trust (PST) berinisiatif untuk mengambil alih kepemilikan demi menyelamatkan klub kebanggaan mereka.
Di daratan Britania lainnya, Manchester memiliki klub yang juga dikelola dan dijalankan oleh suporternya sendiri. Berbeda dari Portsmouth FC yang dipengaruhi kebangkrutan, FC United of Manchester didirikan oleh mantan suporter Manchester United pada tahun 2005 akibat ketidakpuasan atas pengambilalihan oleh Malcolm Glazer. Mereka berasumsi bahwa klub pujaan mereka akan terlilit utang karena Glazer Group menaikkan harga tiket di Old Trafford untuk menutupi pinjaman di anak perusahaannya yang lain.
Setelah sekian tahun hidup nomaden, pada 29 Mei 2015, FCUM resmi memiliki kandang baru di Broadhurst Park Stadium. Stadion yang berada di wilayah Moston ini juga didirikan secara swadaya oleh para suporternya. Saat ini FC United akan bersiap mengarungi National League North di musim 2015-2016. Di Inggris Raya, bukan hanya Portsmouth FC atau FC United of Manchester saja klub yang dimiliki oleh suporternya sendiri. AFC Wimbledon, Wrexham AFC, Wycombe Wanderers FC adalah beberapa contohnya.
Bisa dikatakan, kelompok suporter dari klub sepakbola membutuhkan identitas sebagai alat untuk mengukuhkan atau mempertahankan eksistensi mereka dari kelompok-kelompok lain melalui kebanggaan sejarah klub, prestasi klub, hingga kebanggaan teritori.  Misalnya seperti yang terjadi di Austria. Nasib sial dialami oleh suporter SV Austria Salzburg karena pada 6 April 2005 lalu,  klub tercinta mereka di akuisisi oleh perusahaan Red Bull. Perusahaan Austria yang bergerak di bidang minuman berenergi ini mengubah sejarah-sejarah yang tercipta, mulai dari nama klub menjadi FC Red Bull Salzburg, jajaran manajemen hingga warna kostum tim.
Para suporter yang tidak terima, kemudian mendirikan klub baru yang dinamai sama SV Austria Salzburg dan mempertahankan warna kebesaran mereka. Di Austria, hanya ada dua klub, di antaranya Violette -julukan SV Austria Salzburg- dan SK Rapid Wien yang dimiliki oleh suporternya sendiri.
Jika kembali lagi ke dataran Inggris, dilansir oleh The Guardian, pemilik Hull City Assem Allam berniat mengubah nama klub menjadi Hull Tigers. Setelah tahun lalu ditolak FA Council, kini Allam berniat mengajukan kembali aplikasi perubahan nama klub miliknya pada FA, sontak para pendukung The Tigers kembali mendemo kebijakan yang akan menghapus identitas mereka.
Lain Hull City, lain juga Cardiff City. Pemiliki klub yang juga merupakan pengusaha asal Malaysia, Vincent Tan, pada musim 2014/2015 mengambil kebijakan kontroversial dengan mengubah kostum kandang menjadi dominasi warna merah. Suporter yang tak terima dengan kebijakan ini pun bersuara, akibatnya mulai musim 2015/2016, Cardiff akan kembali berkostum biru.
Sebagaimana di Spanyol, FC Barcelona dan Real Madrid dapat menjadi contoh klub yang dimiliki suporter, yang mengajarkan bagaimana kehidupan sepakbola itu berjalan. Kebanggaan identitas, teritori  dan idealisme, pada akhirnya melahirkan kebanggaan prestasi. Athletic Bilbao, klub La Liga yang musim 2014/2015 menduduki urutan tujuh ini mempunyai lebih dari 33.000 anggota klub yang secara regular mengikuti pemilihan presiden klub. Bahkan The Leones-julukan Athletic Bilbao- tidak akan mengizinkan pemain di luar keturunan Basque untuk membela panji-panji klub yang saat ini dipimpin Presiden Jose Urrutia ini. Aturan tersebut dikenal dengan nama cantera.
Lain halnya yang terjadi di Jerman. DFL (Operator Liga Jerman) dan undang-undang tidak mengizinkan sebuah klub dimiliki mayoritas oleh individu atau sebuah perusahaan. Hak kepemilikan klub diserahkan pada anggota klub sebanyak 50% + 1 agar mendapat lisensi bermain di Bundesliga dan 2.Bundesliga.
Sesuai aturan yang dibuat bersama-sama oleh DFL dan pemerintah Jerman, klub yang terdaftar harus memiliki minimum tujuh orang anggota yang mengontrol dan mengelola klub. Hal ini bertujuan untuk memproteksi klub-klub supaya terhindar dari pemilik yang tidak tepat.
Jerman memperlakukan suporter sepakbola seperti raja. CEO Borussia Dortmund, Hans Joachim Watzke menjelaskan kalau tiket murah dan kendali suporter atas klub merupakan bagian dari budaya sepakbola Jerman. Lewat apa yang dikerjakannya, ia tak ingin suporter kehilangan romantisme dan budaya tersebut.
Lantas, bagaimana dengan Indonesia? Pada era Galatama, banyak klub yang dimiliki oleh satu orang atau perusahaan, seperti Warna Agung dimiliki PT.Warna Agung, Pardedetex dimiliki pengusaha TD.Pardede, Arseto FC dimiliki Sigid Harjoyudanto. Kala itu, klub-klub Indonesia mirip dengan AC Milan yang lekat dengan kepemilikan keluarga Berlusconi ataupun Napoli yang dimiliki oleh Aurelio De Laurentiis.
Sepakbola, termasuk di Indonesia, seharusnya linier dengan kultur masyarakat. Sebagai olahraga yang berkembang menjadi budaya, sepakbola seharusnya juga berorientasi kepada suporter, bukan melulu kepada pemilik modal ataupun penguasa oligarki.  Tak ada yang membantah kalau gelontoran uang bisa membikin seseorang atau satu perusahaan membeli dan mengendalikan klub. Namun bagaimanapun juga, di antara suporter dan klub, selalu ada hal yang tak terbeli oleh uang sebanyak apapun.

13 KESALAHAN UMUM SAAT BERMAIN FUTSAL

0 komentar

Dalam sebuah olahraga, semua pemain melakukan kesalahan, bahkan pemain terbaik sedunia sekalipun. Namun apa yang membuat para pemain profesional lebih baik daripada pemain amatir? Mereka terus berlatih supaya frekuensi kesalahan mereka terus berkurang sampai titik minimal. Jika anda ingin menjadi pemain futsal yang lebih baik, pertama-tama anda harus mengenali kesalahan-kesalahan umum yang harus dikurangi saat bermain futsal.
Tetap bermain saat kelelahan – manfaatkan aturan futsal tentang pergantian pemain yang tak terbatas. Apabila tidak ada pemain pengganti, berdirilah di daerah pertahanan anda sampai anda bisa berlari lagi.
Berdiri diam menunggu bola – futsal berpusat pada passing, pergerakan pemain, dan menciptakan ruang di lapangan yang sempit. Apabila anda hanya diam menunggu bola, anda tidak berguna.
Transisi yang lambat antara menyerang dan bertahan – saat anda memegang bola, seluruh pemain harus terlibat dalam menyerang. saat anda kehilangan bola, seluruh pemain harus terlibat dalam bertahan.
Terlalu cepat menyerah – dalam olahraga futsal, anda dapat menciptakan 3 gol dalam 1 menit. Jadi, jangan menyerah sampai menit terakhir.
Tidak menjaga pemain lawan – jumlah pemain yang lebih sedikit menyebabkan pertahanan di futsal sangat rapuh; apabila 1 orang saja tidak menjaga pemain lawan dengan baik, lawan akan dengan mudah menembus pertahanan anda.
Tidak menggunakan sol untuk mengontrol bola – anda akan merasakan kontrol yang baik (bahkan saat menerima operan yang keras) dan fleksibilitas saat bergerak setelah menerima bola.
Berspesialisasi dalam 1 posisi – di olahraga futsal, tidak ada posisi yang spesifik. Semua pemain terbaik di olahraga ini dapat bermain dengan baik dalam bertahan, menyerang, atau di sisi sayap.
Egois dan serakah saat memegang bola – bahkan di sepakbola (11 pemain), anda tidak boleh egois. Di lapangan futsal, ruang yang ada lebih sempit. Coba bayangkan, bagaimana cara anda melewati 4 orang sendirian dalam jarak 5 meter? Disinilah anda harus bermain dengan rekan 1 tim anda.
Memberikan operan melambung kepada teman anda – sesekali tidak apa, namun usahakan sebisa mungkin memberikan operan datar, karena bola futsal yang lebih kecil dan memiliki pantulan yang lebih berat lebih sulit dikontrol di udara.
Kurang konsentrasi – olahraga futsal sangat cepat, jika anda kehilangan konsentrasi bahkan hanya untuk beberapa detik, anda dapat kebobolan gol.
Terlalu fokus menyerang dan mengabaikan pertahanan – seringkali kita melihat sebuah tim menyerang terus menerus dan menguasai bola, namun pada akhirnya kalah dengan serangan balik. Tetaplah waspada, usahakan supaya serangan anda efisien dan jangan biarkan pertahanan anda terlalu terbuka.
Terlalu lambat mendistribusikan bola – hal ini sangat penting, jika anda dapat mengoperkan bola dengan cepat (terutama saat set piece dan kick in), semakin besar kemungkinan anda menyerang lawan anda saat sedang lengah.
Tidak memanfaatkan kiper – terkadang kiper bisa menjadi pemain kelima saat kita kehabisan opsi pemain untuk dioper. Atau di saat tim anda ketinggalan, anda dapat melakukan power play.
Setelah membaca daftar di atas, coba perhatikan lagi cara anda bermain, dan cobalah untuk menguranginya, karena sebagian besar dari kesalahan tersebut hanyalah kebiasaan yang bisa diubah. By the way, apakah ada kesalahan umum lainnya yang kami lewatkan? Berbagilah dengan kami melalui fasilitas comment di bawah! :)